www.Hypersmash.com

Rabu, 16 November 2011

Membangun Kondisi Kelas yang Kondusif & Mantap

Jika di lingkungan masyarakat, keluarga merupakan komunitas terkecil maka di lingkungan sekolah, kelas merupakan kesatuan sosial sekolah terkecil. Kelas merupakan kumpulan siswa dalam jumlah tertentu di bawah bimbingan ibu atau bapak guru wali kelas. Jumlah siswa setiap kelas, berkisar antara 20 s/d 40 orang. Para siswa akan menetap di kelasnya (berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya) paling tidak satu tahun.
Kelas sebagai komunitas sekolah terkecil dapat memengaruhi suasana kelasnya dalam berinteraksi dan kegiatan pembelajaran yang pada gilirannya dapat berpengaruh terhadap suasana dan prestasi belajarnya.
Suasana kelas yang kondusif akan mampu mengantarkan pada prestasi akademik dan non-akademik siswa, maupun kelasnya secara keseluruhan. Kelas yang kondusif di antaranya memiliki ciri-ciri;
tenang, dinamis, tertib, suasana saling menghargai, saling mendorong, kreativitas tinggi, persaudaraan yang kuat, saling berinteraksi dengan baik, dan bersaing sehat untuk kemajuan.
Untuk membangun kondisi kelas yang kondusif dan mantap sebenarnya mudah, kalau guru wali kelas dapat mengkondisikannya dengan baik. Sebaliknya akan sulit, jika guru wali kelasnya kurang peduli dengan kondisi kelasnya. Oleh karena itu, terciptanya kondisi kelas yang mantap dan kondusif bagi pembelajaran yang efektif merupakan langkah awal bagi peningkatan prestasi belajar.
Kelas memiliki 3 fungsi atau dimensi, yaitu sebagai keluarga, komunitas ,dan team work. Sebagai sebuah keluarga, kelas merupakan orang-orang yang satu dengan lainnya sebagai saudara di bawah asuhan guru wali kelasnya. Ciri yang ada pada sebuah keluarga yaitu rasa saling menyayangi, menghormati, menghargai, dan melindungi, bisa terbentuk maka suasana kelas akan sangat menyenangkan dan menjadi betah.
Kelas sebagai sebuah komunitas yaitu di dalamnya tempat berkumpul orang-orang (para siswa) yang relatif berinteraksi cukup lama (permanen) 1 tahun. Sebagai sebuah komunitas, ciri yang menonjol adalah adanya model interaksi yang sehat dan norma-norma yang disepakati bersama. Oleh karena itu, para siswa di kelas harus sadar akan adanya norma-norma sosial kelas, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Jika hal itu terbentuk maka kondisi kelas akan terkendali, saling toleransi, dan sinergi satu dengan yang lainnya. Ini akan berdampak pada perbaikan suasana dan prestasi belajar.
Sebagai sebuah tim kerja (team work), kelas terdiri dari orang-orang yang masing-masing bergerak dan bekerja untuk menuju visi atau cita-cita . Yang dimaksud dengan visi pribadi adalah cita-cita masa depan, perolehan prestasi akademik, pengembangan diri, dll. Sementara visi kelas adalah kondisi kelas yang kondusif dan mantap, misal kelas yang tertib, indah, disiplin, kompak, saling menghargai, saling mendukung dll.
Ciri yang menonjol pada kelas sebagai sebuah tim kerja adalah kesadaran akan perlunya ketegaran visi pribadi maupun visi kelasnya. Sebagai contoh, kalau sebuah kelas memiliki visi yang terumuskan dalam motto ”We are the best”, maka setiap individu yang berada di dalamnya akan mengidentifikasikan dirinya menjadi ”the best”.
Ketiga fungsi dimensi dari suatu kelas tersebut dapat secara bersamaan dibentuk dan dikondisikan sehingga menghasilkan keadaan kelas yang well educated dan well achievement.
Langkah teknis
Selama ini peran dan fungsi kelas belum dioptimalkan, pengelolaan kelas apa adanya. Padahal, kalau siswa sudah tumbuh kesadaran dirinya (self awareness), maka motivasi intristik sebagai energi belajar siswa yang sangat dahsyat akan tumbuh dan befungsi efektif. Kalau siswa belajar dengan dasar motivasi internal yang kuat maka prestasi akan dengan mudah diraih.
Hal yang tidak kalah penting dikondisikan di kelas sebagai sebuah keluarga, komunitas, dan tim kerja adalah prinsip-prinsip belajar yang selama ini dicanangkan oleh UNESCO yaitu bagaimana agar para siswa mampu mengespresikan semangat, belajar untuk belajar (learning how to learn), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning ho to be), belajar untuk melakukan (learing how to do), dan belajar untuk hidup bersama (learning how to life together).
Jika prinsip-prinsip tersebut secara bertahap dan simultan dilaksanakan dengan melalui pendekatan tertentu maka kondisi kelas akan semakin efektif dan kondusif.
Peningkatan mutu pendidikan atau pembelajaran berbasis kelas, berupaya untuk lebih memberdayakan (empowerment) siswa-siswa tidak hanya dipandang sebagai objek dalam pembelajaran tetapi sebagai subjek yang memiliki kesadaran, harapan, keinginan, visi masa depan.
Berikut ini merupakan hasil pengalaman dan pengamatan di lapangan berkenaan dengan langkah-langkah teknis pengkondisian kelas.
Tahap pertama merupakan persiapan, yaitu guru wali kelas menyiapkan konsepnya, prosedur,dll. Tahap kedua, pelaksanaan dari mulai penawaran, pembuatan kesepakatan sesama teman di kelas, terhadap mata pelajaran, pada guru wali kelas, kesiapan diri, motto kelas, dan lain-lain. Tahap ketiga, monitoring program, pembinaan, dan evaluasi. Melalui tahap-tahap tersebut siswa diajak dalam setiap pengambilan keputusan di kelas. Jika siswa merasa terlibat maka akan tumbuh rasa memilikinya (sense of beloging), dengan demikian siswa dengan suka rela mentaati kesepakatan.
Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa 90% keberhasilan pembelajaran adalah disebabkan oleh adanya suasana psikologis yang menyenangkan. Suasana psikologis tersebut dapat diciptakan, dibentuk, dan dikondisikan. Berdasarkan penelitian para ahli bahwa otak kita dapat dengan optimal daya serapnya jika secara psikologis dalam keadaan senang sehingga klep yang ada di otak terbuka. Dalam kondisi tersebut otak dapat bekerja dengan sangat baik. ***

0 comments:

Poskan Komentar

Tinggalkan komentar anda di sini :)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | blogger mura
Ping Blog Ping your blog HyperSmash